Tragedi Kebakaran Hutan Mulai Makan Korban, Kenapa Kembali Terulang?
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Sudah
dua pekan warga Singkawang, Kalimantan Barat merasakan kabut asap
akibat kebakaran hutan di wilayah Bengkayang. Kondisi ini dirasakan
semakin parah tiga hari belakangan.
"Saya bangun tidur pagi, mata saya langsung perih. Selain itu jika
buka jendela, asap masuk ke rumah semua," ujar Frino Bariacianur Barus
kepada Liputan6.com saat dihubungi dari Jakarta, Senin (16/9/2019).
Pria kelahiran 42 tahun lalu itu menuturkan, kabut asap terasa sangat
tebal pada pagi hari. Kala siang dan sore menjelang, kabut asap mulai
berkurang lantaran terhembus angin.
"Aktivitas warga di dalam rumah, sekolah diliburkan, tidak tahu
sampai kapan sekolah mereka diliburkan. Warga juga pakai masker saat
keluar," ujar dia.
Wilayah Kalimantan Barat saat ini dikepung titik api (hotspot). Dari pantauan situs https://fires.globalforestwatch.org/map/, titik api seluruh Indonesia dari 1 Agustus sampai 14 September 2019 mencapai 151.862 titik.
Titik api terbanyak tingkat provinsi berada di Kalimantan Tengah.
Sedangkan tingkat Kabupaten, dirasakan masyarakat Ketapang, Kalimantan
Barat.
Infografis Kebakaran Hutan dan Bencana Kabut Asap di Indonesia. (Liputan6.com/Triyasni)
Merespons kondisi ini, Menko Polhukam Wiranto mengungkapkan,
pemerintah sudah melakukan semua upaya penanggulangan kebakaran hutan
dan lahan. Namun karena musim kering, perlu investarisasi terkait
kekurangan di lapangan.
"BMKG menyampaikan kemarau masih kurang lebih satu atau dua bulan
lagi, tentunya kita putuskan melengkapi kekurangan-kekurangan itu," ujar
Wiranto kepada wartawan, Senin (16/9/2019).
Wiranto menegaskan, pemerintah bergerak cepat mengatasi masalah
kebakaran hutan ini. Kondisi darurat tersebut akan ditangani secara
sistematis dan dengan dukungan yang memadai. "Kalau tidak, tentu kita
akan kedodoran," ujarnya.
Untuk menangani kebakaran ini, TNI dilibatkan dengan menerjunkan
pesawat untuk hujan buatan. Ada sekitar 52 helikopter yang dikerahkan.
Helikopter BNPB bersiap memadamkan api di kebakaran hutan. (Dokumentasi BNPB)
"Itu dari pemerintah, menyewa, dari para pemilik perkebunan besar.
Semuanya sudah kita minta untuk berpartisipasi," ungkap Wiranto.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
menilai, kebakaran hutan ini tak lepas dari adanya fenomena El Nino. Hal
itu diperparah dengan kebakaran di Australia yang arah anginnya dari
Tenggara menuju Barat Laut.
"Nah sehingga udara kering dari Malaysia menambah potensi kebakaran
ini. Karena di Indonesia betul-betul sedang kering, membuat bio massa
atau hutan-hutan kita kondisinya cukup kering," ujar Direktur Jenderal
Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman di Taman
Mini, Jakarta, Senin (16/9/2019).
Seorang anak mengenakan masker untuk meminimalisir dampak kabut asap. (Dokumentasi BPNB)
Untuk jumlah hotspot, KLHK mencatat Kaltim ada sekitar 80 hotspot. Kalteng 600-700 hotspot, Jambi lebih banyak jumlahnya sedangkan Riau mencapai 200-300 hotspot.
"Sekarang yang cukup besar kebakarannya itu di Riau, di Kalbar sudah
mulai menurun, yang masih tinggi ini di Kalimantan Tengah. Oleh karena
itu kita perlu waspada di sana," ujar Ruandha.
KLHK menilai kebakaran hutan terjadi akibat faktor manusia. Masih ada
cara-cara pembukaan lahan korporasi yang menggunakan tenaga masyarakat.
Dan ada pula yang dilakukan masyarakat, karena cara menanam mereka yang
masih konvensional.
Pada bagian ini, pemerintah dan pemda akan membina masyarakat agar
tidak membakar lahan saat ingin bercocok tanam. Misalnya jerami-jerami
tidak dibakar namun diubah jadi kompos atau pupuk.
Efek 'Damai' dengan Investasi?
Petugas pemadam kebakaran memadamkan lahan yang terbakar di Jambi. (Bangun Santoso/Liputan6.com)
Sementara
itu, Polri mengaku fokus dalam penegakan hukum terhadap mereka yang
terbukti melakukan pembakaran lahan maupun hutan. Baik itu sengaja
maupun tak sengaja.
"Ada penambahan tersangka, khususnya perorangan. Total diamankan ada
185 tersangka perorangan dan untuk korporasi 4 yang sudah ditetapkan
tersangka," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di
Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/9/2019).
Dia menambahkan, kasus Karhutla yang sebagian masih proses sidik ada
95 kasus. Kemudian 41 kasus sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum,
dan dua kasus dinyatakan P21.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau kebakaran hutan. (Dokumentasi BNPB)
"Untuk tahap 2, penyerahan barang bukti dan tersangka ada 22 kasus," ungkap Dedi.
Namun hal berbeda disampaikan Direktur Eksekutif WALHI Riau, Riko
Kurniawan. Dari catatan WALHI menunjukkan, penegakan hukum kasus
Karhutla tahun ini turun drastis. Beda pada 2013-2014. Satu perkara bisa
langsung dibawa ke pengadilan dalam jangka waktu sebulan.
"Di Riau, satu perusaahan yang jadi tersangka Polda. Berkasnya sampai
sekarang tidak ada kejelasan. Bahkan kejadian 2016, ada perusahaan yang
di SP3," ujar dia kepada Liputan6.com, Senin (16/9/2019).
Lebih jauh dia menilai, permasalahan kebakaran hutan dan asap di
Sumatera dan Kalimantan merupakan imbas dari rusaknya lahan gambut.
Sehingga saat awal terpilih, Jokowi memberikan perhatian khusus kepada
lahan gambut ini.
"Presiden, waktu 2014 blusukan asap di Riau. Dia mengeluarkan
kebijakan pemulihan dan perlindungan gambut dengan mengeluarkan
moratorium maupun meneken PP 57 (tahun 2016 tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Ekosistem Gambut)," ujar Riko.
Kepala
BNPB Doni Monardo mendampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
melakukan analisis dan evaluasi serta peninjauan langsung kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau pada Sabtu (14/9/2019). (Dok
Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)
Namun celakanya, lanjut dia, rencana itu tidak berjalan efektif
lantaran pemerintah cenderung berdamai dengan investasi. Prinsip-prinsip
tentang lahan gambut tidak terpenuhi. Akibatnya, kebakaran itu masih
terjadi.
"Ada izin di dalamnya, mengganggu investasi. Padahal dalam konteks
gambut yang sederhana, gambut itu kan harus basah. Karena kering,
makanya terjadi lagi kebakaran," ujar dia.
Riko juga menganggap, pemerintah tidak memahami persoalan mendasar
tentang penanganan kebakaran hutan. Menurut dia, pemerintah seharusnya
me-review dan mengaudit, serta mencabut izin konsesi yang melanggar aturan.
"Saat Jokowi blusukan di 2014 di desa, pemerintah mereview dan
mengaudit serta mencabut izin salah satu konsesi yang diberikan
masyarakat melalui hutan desa. Juga kerja pemulihan dilakukan sampai
sekarang. Imbasnya tidak ada titik api di situ. Kenapa itu tidak
dilanjutkan," ujar dia.
Karena itu, ia menduga pemerintah tidak memiliki data soal itu. Sebab jika data itu dikantongi, pemerintah akan me-review terkait pemberian izin kepemilikan lahan gambut. "Akan terpetakan wilayah yang rusak," ucap Riko.
Dia mengungkapkan, saat ini isu kebakaran hutan sudah masuk ranah nasional. Semua stakeholder hendaknya bergandengantangan sehingga ritme penangananya menjadi terarah.
"KLHK fokus mengaduit konsesinya. Penegak hukum ke penegakan hukum,
Kemenkes dan Kementerian PPA dan Menko MPK merangkul agar bagaimana
penyelamatan warga. Kan begitu," tambah Riko.
Kabut
asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Riau pada
Minggu (15/9/2019). (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)
Dia menegaskan, perlu penanganan khusus dalam menyelesaikan kebakaran
hutan ini. Pemerintah, harus menggalakkan agenda pemulihan lahan gambut
di masa mendatang serta perbaikan tata lahan yang terus diperkuat.
"Kalau ada investasi, carilah yang ramah terhadap gambut dan tidak merusak fungsinya," ujar dia.
Hal yang tak kalah penting, lanjut Riko, soal keselamatan masyarakat
saat kabut asap menyerang. Harus ada protokol yang dijalankan ketika
kondisi darurat itu terjadi.
"Ada edukasi publik dari pemerintah untuk dijadikan muatan lokal,
minimal menyelamatkan diri agar minimal terpapar asap di masa-masa
mendatang," ucap dia.
Dia berharap, tahun ini menjadi tragedi kabut asap yang terakhir.
Kejadian perih dari tahun ke tahun ini harus diambil hikmahnya agar
masyarakat tidak jatuh ke lubang sama. Kejadian ini hanya dirasakan
hewan yang bernama keledai.
"Kalau tidak, kita bisa jadi keledai mas," kata dia.
Kabar Bayi Meninggal
Kebakaran hutan di sebuah titik di Kalimantan Tengah. (dok BNPB)
Kebakaran
hutan di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimatan menimbulkan dampak
bagi kehidupan sosial. Hak anak-anak mendapatkan pendidikan di sekolah
tercabut lantaran tempat belajar itu meliburkan kegiatannya.
"Pemkot Singkawang meliburkan siswa dari tanggal 16 sampai 18
September 2019, dan masuk kembali seperti biasa tanggal 19 September
2019," kata Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie, Senin (16/9) dikutip
dari Antara.
Selain dalam hal pendidikan, kabut asap juga membuat pengendara
terjatuh di jalan karena jarak pandang yang terbatas akibat asap yang
pekat. Bahkan dalam video viral, seorang wanita di Riau hampir jatuh
pingsan dari sepeda motor.
Pengendara
motor menembus kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau,
Selasa (10/9/2019). Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan
(karhutla) tersebut menurunkan jarak pandang dan kualitas udara turun ke
status tidak sehat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Untuk korban jiwa dikabarkan, seorang bayi empat bulan meninggal
dunia diduga akibat terpapar kabut asap. Bayi itu berasal dari Desa
Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin, Masagus M Hakim membenarkan kabar
itu. Dari hasil pemeriksaan medis, bayi tersebut didiagnosa pneumonia.
Kerabat bayi, Agus Darwanto menjelaskan, bayi itu mengalami sesak
napas mendadak pada Sabtu 14 September 2019 malam. Lantaran kondisinya
terus memburuk, langsung dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia.
Dikatakannya, dokter belum memastikan penyebab kematiannya. Diagnosa
awal karena penyakit paru-paru dan bakteri. "Kata dokter penyebabnya
bisa karena masalah di paru-paru dan bisa juga bakteri. Belum sempat
dilakukan diagnosa lanjutan untuk memastikannya karena sudah meninggal,"
kata dia.
Ular piton raksasa terbakar akibat kebakaran hutan Kalimantan. (Facebook: Johan Michael Median Pasha)
Tak hanya manusia, binatang pun menjadi korban dari keganasan
kebakaran hutan. Warganet di Instagram dihebohkan penampakan foto dan
video viral ular berukuran raksasa mirip anaconda atau sanca dengan
panjang belasan meter mati terpanggang.
the influencer marketing agency merupakan strategi pemasaran yang ampuh bagi kamu yang ingin menjual produk atau mengembangkan brandmu
Dalam foto tersebut, ular sepanjang belasan meter dengan besar
sebatang pohon mati terpanggang dengan latar sisa-sisa kebakaran hutan.
Ironisanya bangkai ular ditali dengan rafia pada sbobet bagian kepala.
Sementara video penampakan ular mati juga dibagikan oleh akun Yuni Rusmini yang kemudian diposting @makassar_iinfo.
"Kebakaran lahan yg berakibat asap di wilayah kalteng terutama
kotim sungguh memprihatinkan, berbahaya bg kesehatan warga, hingga
habitat hewannya pun ikut jadi korban," demikian narasi yang tertera di sana.
sumber : Liputan6.com
Kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) meluas di Kalimantan dan Sumatera. Kejadian saat musim
kemarau 2019 tersebut kembali memicu bencana asap di banyak daerah.
Laporan bencana asap pun bermunculan dari Riau, Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Barat pada bulan ini.
Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Senin,
16 September 2019, pukul 16.00 WIB, titik panas ditemukan di Riau
sebanyak 58, Jambi (62), Sumatera Selatan (115), Kalimantan Barat (384),
Kalimantan Tengah (513) dan Kalimantan Selatan (178).
Jumlah titik panas atau hotspot itu menurun dibandingkan data BNPB per
15 September 2019, pukul 16.00 WIB. Pada Minggu kemarin, jumlah titik
panas di Riau ada 59, Jambi (222), Sumatera Selatan (366), Kalimantan
Barat (527), Kalimantan Tengah (954) dan Kalimantan Selatan (119).
Sementara luas karhutla di Indonesia selama 2019, sesuai data KLHK,
sudah mencapai 328.722 hektare. Dari data itu, kebakaran di Kalimantan
Tengah tercatat seluas 44.769 hektare, Kalbar (25.900 ha), Kalsel
(19.490 ha), Sumsel (11.826 ha), Jambi (11.022 ha) dan Riau (49.266 ha).
Baca juga: Beda Data Kebakaran Hutan BNPB vs KLHK: Riau Paling Terdampak
Sedangkan, menurut data yang dilansir situs iku.menlhk.go.id secara
harian, pada 16 September 2019 per pukul 15.00 WIB, Indeks Standar
Pencemar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya (Kalimantan Tengah),
mencapai angka 500. Artinya, kualitas udara di Palangkaraya ada pada
level Berbahaya bagi semua populasi yang terpapar pada waktu tersebut.
Data yang sama menunjukkan hingga Senin pukul 15.00 WIB, kualitas udara
di Pekanbaru (Riau) dan Pontianak (Kalbar) masuk dalam kategori Tidak
Sehat, dengan angka ISPU masing-masing 192 dan 160. Dampak kondisi di
level ini umumnya penurunan jarak pandang dan penyebaran luas debu. ISPU
pada kategori Tidak Sehat juga terjadi di Kota Jambi, yakni mencapai
angka 129.
Angka ISPU itu berdasar parameter konsentrasi partikulat PM 10 atau
partikel di udara berukuran lebih kecil dari 10 mikron. PM10 adalah
partikel debu dan salah satu polutan yang membahayakan sistem pernapasan
jika terhisap langsung ke paru-paru serta mengendap di alveoli.
Data BMKG yang dilansir harian berdasar parameter konsentrasi PM10, juga
menunjukkan kualitas udara di Pekanbaru (Riau) pada 16 September 2019,
pukul 18.00 WIB, mencapai level Berbahaya atau angka 327 µgram/m3.
Tingkat konsentrasi PM10 makin parah pada pukul 21.00 WIB.
Di Pontianak, konsentrasi PM10 sempat menyentuh level Berbahaya pada
Senin, pukul 16.00 WIB, yakni 383,81 µgram/m3. Angka itu menurun ke
level Sangat Tidak Sehat atau 293,73 µgram/m3 pada pukul 18.00 WIB.
Kualitas udara di Sampit (Kalbar), yang Berbahaya pada Senin pagi, turun
ke level Sangat Tidak Sehat dengan konsentrasi PM10 226,6 µgram/m3,
saat pukul 18.00 WIB.
Akibat Bencana Asap Bagi Warga
Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Made Ali
mengilustrasikan bencana asap membuat warga di daerahnya selama ini
seperti dikurung dalam ruangan tertutup bersama tungku kayu bakar yang
menyala. "Bagaimana rasanya? Hidung tersumbat, pusing, mata perih, kan?
Nah itu lah yang kami alami setiap hari," kata Made pada Minggu
(15/9/2019).
Sementara Fitri Yannedi (40) mengaku sudah dua minggu "tersandera" di
rumahnya, daerah Pekanbaru. Makanan sehari-harinya tak jauh-jauh dari
mie instan karena mayoritas pasar dan rumah makan tutup saat pemiliknya
mengungsi. Anak dan istrinya pun mengungsi ke Sorkam, Sumut. Menurut
dia, asap sudah mulai muncul di sekitar permukimannya pada akhir Mei
lalu.
Baca juga: Penanganan Karhutla dan Cerita Warga Saat Kabut Asap
Merajalela
Dia pun bersama sesama alumni Universitas Riau, serta 40 pengacara, kini
menyiapkan gugatan class action, melawan wali kota, gubernur dan
presiden. "Riau ini bukan terbakar tapi dibakar. Sudah jadi rahasia
umum, perusahaan-perusahaan biadab itu kerjanya bakar hutan," ujar
Yannedi.
Adapun Winda (34), mengaku setiap hari terpapar asap dan melihat api
dari hutan di depan rumahnya, di Palangkaraya, Kalteng. Kata dia,
rumahnya diselimuti asap sejak Juni 2019. Bahkan, pada pekan kemarin,
jarak pandang di permukiman Winda sempat hanya sekitar 1 meter.
Winda khawatir karena kondisi ini menghambat aktivitas dan mengganggu
kesehatan anaknya. Anak Winda yang masih 2 tahun kini menderita ISPA
(infeksi saluran pernapasan atas). "Kalau yang besar itu kan SMP,
batuk-batuk juga [...]," ujar Winda, Jumat (13/9/2019) lalu.
Asap juga membuat penerbangan di Bandara Pangsuma di Putussibau, Kapuas
Hulu, Kalimantan Barat, dibatalkan pada 15 September 2019. "Penerbangan
dibatalkan karena jarak pandang terbatas di Pontianak dan Putussibau,"
kata Kepala Bandara Pangsuma, Hery Azari Batubara.
Garuda Indonesia bahkan mengumumkan pembatalan jadwal 15 penerbangan
pada 16, 17, 18 dan 19 September 2019 karena dampak kabut asap di
Kalimantan.
Penyebab Karhutla di Kalimantan dan Sumatera
Setelah meninjau kebakaran hutan dan lahan di Riau dengan menaiki
helikopter bersama Kepala BNPB dan Panglima TNI, pada Minggu
(15/9/2019), Kapolri Jenderal Tito Karnavian heran karena ia tidak
melihat lahan sawit dan tanaman industri ikut terbakar. Kalaupun ada,
hanya di pinggir.
"Ini menunjukkan adanya praktik 'land clearing' dengan [cara] mudah dan
murah memanfaatkan musim kemarau," ujar Tito terkait dugaan kuat
kebakaran akibat ulah manusia dalam siaran pers BNPB.
Hingga 16 September 2019, polisi memang sudah menetapkan 185 tersangka
perseorangan dalam kasus karhutla. Namun, baru 4 korporasi menjadi
tersangka terkait kasus karhutla di Riau, Kalbar dan Kalteng.
Baca juga: Karhutla Riau Bikin Pekanbaru Menguning dan Warga Mulai
Mengungsi
Sedangkan KLHK mengklaim sampai akhir pekan lalu sudah menyegel 42
perusahaan yang diduga menjadi otak di balik pembakaran hutan dan lahan.
Penyegelan itu dalam rangka proses hukum.
Lahan perusahaan-perusahaan itu berlokasi di Jambi, Riau, Sumsel, Kalbar
dan Kalteng. Di antara 42 perusahaan itu ada yang dimiliki pemodal asal
Singapura dan Malaysia.
Dirjen Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani menyatakan akan mendorong
pengenaan pasal berlapis ke pelaku pembakaran hutan, terutama dari
korporasi. Pasal-pasal itu tidak hanya terkait UU Lingkungan, tetapi
juga UU Kehutanan dan Perkebunan.
Menurut Ridho, empat perusahaan yang kini sudah menjadi tersangka kasus
karhutla adalah PT ABP, PT AEL, PT SKN dan PT KS. Tiga perusahaan
pertama berlokasi di Kalbar. Sedangkan yang terakhir beroperasi di
Kalimantan Tengah.
Adapun menurut Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Ruandha Agung
Sugardiman, selain El Nino yang membuat curah hujan minim, insiden
kebakaran di Australia diduga turut membuat potensi karhutla di
Indonesia membesar.
"Memang kondisinya saat ini El Nino normal, tapi ini diperparah dengan
adanya kebakaran di Australia yang arah anginnya sekarang dari tenggara
menuju ke barat laut. Sehingga udara kering dari Malaysia menambah
potensi terjadinya kebakaran ini," kata dia seperti dilansir Antara.
Baca juga: Riau Status Bahaya: Antara Karhutla, ISPA, & Darurat
Bencana Asap
Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan menarik lainnya Addi M
Idhom
(tirto.id - Sosial Budaya)
Baca selengkapnya di artikel "Penyebab dan Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan Hingga Sumatera", https://tirto.id/eic3
Haloo bro and sis..... Gue Tarniwijaya, orang maggil gue dengan nama Jo. Hoby banget baca buku apalagi nulis. Salah satu cita - cita gue jadi seorang blogger ntah blog apapun itu. Soo... gue sukanya yang positif - positif aja. Nah diblog ini gue mau sharing tentang negara.
Komentar
Posting Komentar